Anjar, siapa dia???
Ginanjar Cahya Komara a.k.a. Anjar, lahir di Cimahi 20 September 1987. Meski lahir di Cimahi dan ayah ibunya pun asli Cimahi, namun masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di Depok. Berada dalam sebuah keluarga besar H.E. Kusdinar Achmad Corporation dengan status anak ke-4 dari 9 bersaudara. Sebuah anugerah terunik dapat berada di keluarga ini, dengan suka dan dukanya, serta jumlah anggota keluarga yang tidak sedikit.
SDN Kemiri Muka 2 menjadi saksi bisu proses belajar Si Anjar kecil. Kemudian selepas SD “diasingkan” ke pedalaman Cinangka, Anyer, Banten. Tepatnya di Pesantren Ibnu Salam SLTPIT Nurul Fikri Boarding School dengan status pioner alias angkatan pertama. Pertama kali jauh dari orang tua, pertama kali menjadi angkatan pertama dalam sebuah sekolah/institusi, pertama kali belajar Bahasa Arab, pertama kali hidup di tengah-tengah komunitas yang islami (namanya juga pesantren), pertama kali berkenalan dengan cerita fiksi, pertama kali belajar Al Quran dengan sebenar-benarnya (di sinilah cikal bakalnya Anjar bisa baca Al Quran, terima kasih ustadz-ustadz yang telah mengajarkan Anjar, hanya Allah yang bisa membalas), pertama kali tahu kalau pergaulan laki-laki perempuan ada aturannya, dan pertama kali “mengenal” dunia sepak bola. Yah, memang yang segala”pertama kali” selalu menjadi kenangan dan kesan tersendiri yang sulit dilupakan.
Masa “SMP” selesai, Anjar beranjak dewasa. MAN Insan Cendekia Serpong menjadi pelabuhan sekaligus gudang ilmu berikutnya. Sebuah sekolah yang ingin menyeimbangkan antara IMTAQ dan IPTEK. Tidak berbeda dengan masa di SMP, di sini pun tak kalah banyak kenangan yang didapat. Di sinilah pertama kali mengenal dunia organisasi, pertama kali merasakan persaingan akademis yang sebenarnya, pertama kali berada di lingkungan yang haus prestasi, dan pertama kali menjadi pengibar bendera merah putih. Adapun saat ini Anjar masih tercatat sebagai mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, angkatan 2005.
Anjar pernah punya cita-cita menjadi penulis cerita fiksi islami, tapi belum kesampaian sampai sekarang. Juga cita-cita menjadi penghafal Al Quran, menambah satu dari deretan para huffaadz di Indonesia bahkan dunia (amiiin). Di masa awal studinya di UI, Anjar selepas lulus berfikir untuk kerja kantoran saja. Hidup berkecukupan tanpa kekurangan ataupun kelebihan. Namun seiring berjalannya waktu ditambah motivasi eksternal, pikiran itu berubah. Anjar harus melakukan hal yang berbeda. Karena Anjar tidak ingin menjadi kaya, tapi harus kaya. Bukankah muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada muslim yang lemah? Dan Anjar merasa kekuatan finansial termasuk di dalamnya.
Pada akhirnya, Anjar hanyalah orang biasa-biasa saja dan masih belum bisa berbuat banyak. Masih banyak ilmu yang harus dikejar, pengalaman yang harus dialami, potensi yang harus dikembangkan. Semoga Anjar bisa selalu mengembangkan diri sekembang-kembangnya dan bisa meraih cita-citanya. Amiiin.